Showing posts with label Cosmetics Ingredients. Show all posts
Showing posts with label Cosmetics Ingredients. Show all posts

Kontroversi Talc, Si Bahan Pembuat Bedak Penyebab Kanker

Cantiknya Qonitas - Hampir setiap orang di dunia ini pasti pernah bersinggungan sama yang namanya Talc. Itu lho, yang suka ada di bedak bayi dan bedak yang biasa kita pakai buat dandan.

Sebenarnya gak cuma bedak sih, berbagai macam makeup padat seperti blush on, eye shadow, lipstick, rata-rata pakai talc sebagai bahan baku utama.

Bad newsnya adalah, ternyata gak cuma paraben en de genk aja yang diterpa gonjang ganjing isu kemanan, tapi talc juga!

Nah lo. Memangnya ada apa dengan talc?
Dari berbagai studi ilmiah, talc disinyalir menjadi salah satu penyebab kanker paru-paru jenis mesothelioma dan kanker ovarium (indung telur)! Hmm, ngeri gak tuh?

Terus gimana dong? Masa gak bedakan? Masa gak esedo-an?  

Sebenarnya itu penelitian lama, tapi gaungnya masih terasa sampai sekarang. Buktinya, masih banyak kan para hype yg menjual kosmetik yang bebas anu-ini-itu, termasuk kosmetik bebas talc.

Tapi apakah talc memang benar-benar aman digunakan? Atau ancaman kanker memang masih mengintai?

So kali ini aku mau menjelaskan tentang talc, bagaimana ceritanya kok talc bisa menyebabkan penyakit, dan sampai sebatas mana kita boleh memakai produk berbahan talc.

Apa Itu Talc? 

Talc atau talek/talkum adalah mineral magnesium silikat (terhidrasi) dengan rumus kimia H2Mg3(SiO3)4 . Talc merupakan mineral alam yang didapatkan dari pertambangan batu talek.


Talc digunakan secara luas dalam industri, seperti dalam pembuatan kertas, keramik, coating, plastik, elektronik, krayon, kosmetik, dan masih banyak lagi

Dalam kosmetik, talc menjadi bahan dasar bedak, blush on, eyeshadow dan aneka kosmetik baik yang berbentuk padat (solid) maupun non-solid. Fungsinya di dalam kosmetik adalah menyerap hidrasi, menyerap minyak, mengurangi gesekan pada lipatan, dsb.

Talc dan Gangguan Paru

Secara natural, talc dapat bercampur dengan mineral silikat lain, salah satunya yaitu asbes. Kontaminasi asbes pada talc terjadi dikarenakan sumber alami mereka yang berdekatan. 

ASBES ini lah yang menjadi ancaman kesehatan, karena dapat menyebabkan berbagai gangguan paru-paru seperti asbestosis, edema pleura sampai kanker paru-paru bila serat-serat asbes terhirup. Kalau begitu, masalah utama bukan pada talc-nya, tetapi pada asbes yang mengkontaminasi talc.

Akhirnya, sejak tahun 1973, di Amerika Serikat penggunaan talc sudah dijamin asbestos-free dan dianggap aman untuk digunakan secara luas. Namun perdebatan talc dan kanker masih berlanjut, meski studi ilmiah sudah banyak dilakukan untuk menemukan korelasinya.

Berarti, kita gak akan kena kanker paru-paru kan kalau gak sengaja menghirup bedak tabur yang kita pakai?

Yup, memang tidak.

Yang beresiko tinggi terkena kanker paru adalah para penambang, penghancur dan penggiling batu talc, terutama bila standar keamanan kerjanya rendah.

Kenapa? 

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, talc alaminya memang bisa terkontaminasi asbes yang sifatnya karsinogenik (menyebabkan kanker).


Pada proses penambangan dan penggilingan batuan talc, masih ada resiko terhirupnya serat asbes yang bercampur pada talc. Sedangkan talc yang sudah sampai ke tangan konsumen, sudah dipastikan aman karena telah melalui proses purifikasi agar talc bebas dari berbagai mineral lain termasuk asbes.

Dan tidak ada satupun bukti ilmiah yang menyatakan bahwa penggunaan talc dalam make-up (yang dikhawatirkan terhirup) dapat menyebabkan kanker. 
IARC (nternational Agency for Research on Cancer) yang berada langsung dibawah WHO, menyatakan bahwa menghirup talc yang tidak mengandung asbes dinyatakan: 
“not classifiable as to carcinogenicity in humans.”
Jadi, kesimpulannya:

Menggunakan talc untuk make-up tidak mengancam kesehatan paru-paru, karena bahan baku make-up masa kini harus menggunakan cosmetic grade talc yang dijamin bebas asbes yang bisa menyebabkan kanker paru.

Makanya penting sekali untuk membeli produk kosmetik yang teregistrasi Soalnya gak ada jaminan buat pakai bedak abal-abal, bisa aja kan talc yang dipakai bukan cosmetics grade? Jangan-jangan pake talc untuk bahan keramik lantai, hehehe.

Lalu bagaimana dengan kanker ovarium?

Talc dan Kanker Ovarium 

Dugaan tersebut berawal dari sebuah studi ilmiah pada tahun 1997 yang menemukan partikel talc di dalam jaringan kanker ovarium. Hal tersebut diduga akibat penggunaan bedak pada area genital.  

Banyak penelitian sudah dilakukan untuk menemukan hubungan kausal antara talc dan kanker ovarium. sebagian ada yang mengatakan penggunaan talc pada area genital bisa meningkatkan resiko kanker ovarium, sebagian lagi mengatakan tidak sama sekali.

Karena kurangnya bukti ilmiah yang menguatkan atau melemahkan pengguanan bedak pada area genital, maka IARC menyatakan:
Based on limited evidence from human studies of a link to ovarian cancer, IARC classifies the perineal (genital) use of talc-based body powder as “possibly carcinogenic to humans.”
Kesimpulannya:

Sangat tidak direkomendasikan menggunakan di area genital meski yang dipakai adalah talc bebas asbes sekalipun.

So ladies, jangan dibiasakan pakai bedak di area sela paha dan sekitarnya, ya. Buat kalian yang punya baby, sebaiknya stop kebiasaan orangtua dulu yang suka nepukin bedak di area nappy setelah ganti popok.  Btw, ini himbauan khusus buat yang cewek-cewek aja sih. Kalau cowok mah bebas, hehe.

Kalau betul-betul ingin menghidari talc, alternatifnya apa? 

Sebenarnya, kalau buat cecentilan doang, talc gak usah ditakuti kok. Tapi, bagi kalian yang berprinsip kuat ingin menghindari bahan yang kontroversial pada kosmetik, termasuk talc, ya gak masalah. Menurutku merasa waspada itu harus, asal jangan sampai dikuasai rasa takut berlebihan yang bisa menyusahkan diri sendiri.

Jadi, buat yang ingin pakai bedak yang talc free, pilihannya ada dua macam: mineral makeup atau kalian bikin sendiri di rumah!

Mineral Makeup 

Inilah alternatif yg banyak digunakan para hype untuk mencari kosmetik yg bebas talc. Walaupun menurutku agak aneh sih kalau kosmetik mineral mengklaim bebas talc, karena talc itu sendiri kan merupakan mineral alam, ya nggak? :) Bahan pengganti talc pada mineral cosmetics, bisa dari bubuk Kaolin, Zinc Oxide, Titanium Dioxide, Mica dan masih banyak lagi. 

Tapi sayangnya, alternatif yg banyak dipilih oleh orang-orang yg anti talc ini, malah membawa kontroversi sendiri. Misalnya isu kemanan Titanium Dioxide, Mica, dan berbagai mineral lain. Lah, apa bedanya dong sama talc? Hehe. Itulah.

Tapi biarkan dulu aku melanjutkan tulisanku tentang mineral makeup ini. 

Dulu sebelum nulis halal beauty blog dan belum ngerti apa itu animal cruelty free, aku masih suka pakai kosmetik drugstore yang jahat sama binatang seperti Maybelline, Revlon dan L'Oreal. Nah, merek-merek semacam itu juga mengeluarkan mineral makeup dan aku pernah coba, tapi cuma sebatas nyoba foundation powdernya aja.

Ini sekilas reviewnya:
  • Maybelline Mineral Foundation Powder: Bahan dasarnya Mica, Silicone, Titanium Dioxide dkk, talc free pokoknya. Coveragenya bagus banget, tapi oxidize, akhirnya beli shade yang lebih terang dari kulitku. Kalau gak salah udah discontinue alias gak dijual lagi di sini (CMIIW) 
  • L'Oreal True Match Mineral Foundation Powder. Selain macam-macam mineral, foundie powder ini mengandung kaolin/kaolinite. Kaolin itu berasal dari volcano ash (btw, aku punya bubuk Kaolin untuk masker, memang warnanya putih seperti bedak). Coveragenya bagus, pilihan shadenya banyak, kuasnya gak misah-misah ada di tutup foundienya langsung. Lil bit oxidize, sih.
  • Revlon Color Stay Aqua Mineral Foundation: aku lupa bahan dasarnya apa (padahal di blog lama pernah review ini), seingatku memang talc-free. Coveragenya tidak sebaik Maybelline dan L'Oreal, sheer coverage. Kelebihannya, ada rasa dingin saat diaplikasikan dan lebih terasa ringan dipakai.
Itulah ketiga produk durgstore yang pernah aku coba, untuk merek high-end seperti The Body Shop, Bare Minerals, dll aku belum coba. Tapi rata-rata mineral makeup memang pricey harganya.

Homemade Face Powder

Nah, inilah bedak yang relatif PALING aman digunakan! Bahkan jauh lebih aman dari mineral makeup merek super mahal hehe.

Hah, tapi emangnya bisa? 

Iya, bisa! 

Aku yakin bahannya ada di dapur kita semua. Karena bahan dasarnya utamanya adalah... TEPUNG MAIZENA alias tepung jagung!!

Hah, apa gak gatel tuh?

Sama sekali enggak. Lagipula hal tersebut bukan hal yang aneh, karena salah satu bahan baku bedak yg ada di pasaran selain talc ya tepung jagung! Gak percaya? Coba aja tengok komposisi salah satu bedak kalian, adakah tertulis  zea mays starch atau corn starch? Nah, itu nama lain dari tepung jagung (Yaaa, agak gimana juga kali kalau tertulis 'tepung maizena'? Hehe). FYI, contoh bedak yang mengandung tepung jagung adalah Marck's.

Untuk pewarnanya, kita bisa pakai pewarna alami, seperti bubuk cacao, kunyit bubuk dll. Untuk yang berjerawat, bisa ditambahkan bubuk kayu manis. Agak aneh memang, aku pernah membuatnya. Tapi, jangan berharap banyak untuk hasilnya, ya. Bikinnya pun susah susah gampang, salah komposisi warna jatuhnya bisa terlalu gelap atau malah cemong-cemong.

Untuk resepnya, kalian bisa cari di seantero jagad pergugelan. Kalau aku, punya resep sendiri yang udah pas. Dan selain tepung jagung, aku menambahkan serbuk kaolin juga.

Oke mungkin aku cuma bisa menjelaskan 2 macam alternatif pengganti talc. tapi INGAT! Alternatif di atas hanya sebatas pemakaian di badan/wajah saja. Meski itu serbuk yang natural sekalipun, tidak direkomendasikan untuk dipakai di area genetalia wanita dewasa dan anak-anak.

Gimana setelah baca penjelasanku mengenai talc? Makin gak mau pakai talc, apa beralih ke dua alternatif yang 'tidak terlalu' bisa diharapkan itu? hehe. Yah, apapun pilihanmu semoga tulisan ini bermanfaat, ya.

Love, Momzhak

____________________________

Referensi:
  • http://www.cancerwa.asn.au/resources/cancermyths/talcum-powder-myth/
  • http://www.theguardian.com/lifeandstyle/2013/jun/23/should-i-stop-using-talcum-powder
  • http://www.cancercouncil.com.au/86105/cancer-information/general-information-cancer-information/cancer-questions-myths/clothing-cosmetics-tattoos/there-is-inconclusive-evidence-that-using-talcum-powder-can-cause-cancer/
  • http://www.cancer.org/cancer/cancercauses/othercarcinogens/athome/talcum-powder-and-cancer
  • http://www.cancer.org/cancer/cancercauses/othercarcinogens/generalinformationaboutcarcinogens/known-and-probable-human-carcinogens
  • http://en.wikipedia.org/wiki/Talc
  • http://en.wikipedia.org/wiki/Nellie_Kershaw

Ingredients | Pewarna Kosmetik Carmine Red Dihalalkan Oleh MUI

 
Di postingan yang lalu, aku galau kemarau gara-gara pewarna Carmine/carminic acid/CL 75470 menurut Muslim Consumer Group, dinyatakan haram karena berasal dari serangga Cochineal. 

Tapi, pertanyaan mengenai kehalalan Carmine Red muncul lagi setelah aku beli salah satu produk kosmetik yang telah halal certified dari MUI, tapi mengandung zat pewarna serangga tsb.

Nah, jadinya pewarna serangga itu halal or haram??

Ternyata, hukum penggunaan pewarna serangga memang ada 2 pendapat, menghalalkan & mengharamkan.

Ini penjelasannya:

Ingredients | Asam Hialuronat, Waspadai Kehalalannya

Assalamualaikum.

Asam Hialuronat dalam bentuk Sodium Hyaluronat (garam)
Kita yang terbiasa pakai berbagai merek pelembab, mungkin gak asing dengan nama Asam Hialuronat atau Hyaluronic Acid (HA). Zat ini memang berfungsi untuk mengikat air, makanya zat tersebut mampu menghidrasi kulit lebih lama.

Sebelumnya, aku akan menjelaskan secara singkat siapakah HA sesungguhnya... ^^

HA itu merupakan salah satu penyusun jaringan ikat pada tubuh manusia. Fungsi utama molekul ini adalah untuk menstabilkan struktur interseluler (bagian dalam sel) dan membentuk matriks fluida untuk tempat pengikatan kolagen dan serat elastik. Sumber

Ingredients | Bijak Menyikapi Pro-Kontra Paraben(s)


Di sini aku akan membahas mengenai kontroversi pengawet paraben.
Benarkah paraben menyebabkan tumor/kanker payudara?
Apakah kita harus menghindari kosmetik ber-paraben?
Bagaimana cara menyikapi itu semua?
Bagi yg ingin membacanya, diharapkan membaca hingga tuntas ya... ^^

Preservatif memang bukan hal yang terlalu baik untuk kesehatan, terutama jika pengawet tersebut terdapat dalam makanan dan minuman yang kita konsumsi. Ada banyak jenis pengawet yang digunakan dalam dunia industri. Tingkat keamanannya pun beragam dari yang aman sampai yang sudah tidak lagi digunakan sekarang karena terbukti berbahaya.

Salah satu dari banyak pengawet adalah paraben dan keluarganya, ethyl-,methyl-, buthyl-, propylparaben dsb. Paraben(s) merupakan pengawet yang digunakan secara luas. Tidak hanya digunakan sebagai pengawet kosmetik, tetapi digunakan juga sebagai pengawet makanan dan obat-obatan.

Paraben dan Tumor Payudara
Kontroversi paraben sebenarnya sudah mencuat sejak tahun 1990-an. Beberapa studi menyatakan bahwa paraben(s) dapat mempengaruhi level hormon estrogen dalam tubuh sehingga memberi pengaruh terhadap timbulnya tumor payudara.

 Penelitian selanjutnya mengidentifikasi adanya paraben dalam sampel tumor payudara pada 20 orang pasien. Fokus utama penelitian ini sebenarnya adalah penggunaan deodoran yang mengandung paraben dan bukannya kosmetik secara umum, tetapi kini malah dijadikan landasan untuk industri kosmetik secara keseluruhan sehingga mendorong banyak konsumen untuk memeriksa ingredients dari setiap produk yang mereka gunakan. Dan mereka pasti akan terkejut, karena hampir semua yang mereka miliki mengandung parabens!
 
Semua peneliti yang menyelidiki isu ini sepakat, informasi ini tidak meyakinkan dan tidak jelas; dibutuhkan penelitian lebih jauh mengenai paraben. Sebagai contohnya, adanya paraben di dalam tumor payudara manusia tidak berarti mereka merupakan penyebab utama terjadinya tumor. Selain itu, juga tidak diketahui apakah keberadaan paraben dalam kosmetik akan menyebabkan masalah ataukah hanya ketika ia digunakan sebagai deodorant saja (seperti yang telah dihipotesakan oleh para peneliti)

Hal lainnya yang penting untuk diketahui adalah paraben juga digunakan dalam produk-produk makanan, yang juga dapat menjadi sumbernya. Namun sampai sekarang tidak ada seorangpun yang mengetahui (atau mengevaluasi) apakah konsumsi paraben dalam makanan ataukah penggunaannya di kulit (sebagai skincare dan kosmetik) yang sesungguhnya bertanggung jawab terhadap keberadaan mereka di dalam jaringan tubuh manusia.

Dari sekian banyak studi, memang belum ada konklusi yang final bahwa paraben memang betul2 dapat mempengaruhi kesehatan dengan signifikan

Keamanan Paraben dalam Kosmetik (Skin-care, body care, make-up, etc)

Hingga saat ini, paraben masih tergolong pengawet yang relatif aman. FDA (US) dan BPOM masih mengizinkan paraben dalam batas-batas tertentu. Penggunaan paraben dalam produk2 topikal (dioleskan), bukan hal yang harus ditakuti karena zat yg bisa berpenetrasi ke dalam pembuluh darah di kulit sangat sedikit sekali, kecuali jika kalian memakan paraben-nya... ^^ Serius, ga bercanda. Paraben sebagai pengawet makanan bukan ide yang baik menurutku, karena usus kita akan mengabsorbsi hampir semua zat yang kita makan!

Namun untuk sebagian orang yang betul-betul ingin menghindarinya pun bukan masalah menurutku. Lebih bagus lagi jika mampu memilih skincare yang betul-betul natural dan free-preservative 100%. Lagipula memang setiap pengawet itu tidak terlalu baik untuk tubuh, bukan???

Tapi bagi yang ingin menggunakan produk kecantikan free-parabens, pastikan bahwa pengawet pengantinya pun aman. Alih-alih menghindari paraben, tapi masih pakai yg mengandung DMDM hydantoin yg sifatnya formaldehyde releaser.

 Jadi, bagi yang ingin menggunakannya atau menghindarinya bagiku ga masalah. Paraben masih tergolong aman, meski hipotesa mengenai keamanannya pun bertebaran. Menghindarinya pun hak setiap orang meski tetap harus cermat dengan pengunaan pengawet lainnya.

Ragu dengan Paraben
Banyak dari kita semua yang masih bingung, takut dan ragu dengan paraben. Wajar saja, karena selain belum ada jawaban dari hipotesa mengenai keamanan paraben, kita juga hidup di dunia internet sekarang. Dimana ada banyak kesimpangsiuran dan isu-isu yang tidak jelas. Bahkan beberapa produsen memanfaatkan kebingungan kita untuk menelurkan produk terbaru.

Terlalu permisif dengan paraben (dan pengawet lainnya) pun tidaklah baik
. Hal tersebut hanya akan membuat kita tidak kritis dengan isu-isu seperti ini.


Yang harus kita lakukan adalah selalu meng-update informasi yang kita miliki saat ini, namun dalam mencari keterangan di internet, carilah informasi dari situs yang terpercaya dan objektif!

by d'way...
  • Jangn menelan mentah-mentah informasi yang didapat dari situs yang menjual suatu produk, tentu saja kita akan mendapatkan keterangan yang sangat subjektif.
  •  
  • Dapatkan informasi dari situs-situs resmi yang diakui seperti FDA, CDC, Cosmeticsdatabase, atau EWG (Meski aku pikir beberapa informasi dari EWG terlalu berlebihan dan tidak substansial, bahkan terkadang misleading -IMHO-).
     
  • Mendapatkan informasi dari milis atau forum yang kita ikuti di dunia maya adalah hal yang baik. Namun, dari sanalah sering muncul kebingungan dan kesimpangsiuran yg terjadi. So, kuncinya adalah cek & ricek.
Saran yang Lain:
Mengurangi penggunaan pengawet merupakan jalan untuk menjadi lebih sehat. Terutama mengurangi konsumsi makanan berpengawet.
Girls, pengawet yang terdapat dalam makanan instan, snack, cemilan, dll merupakan hal yang lebih berbahaya dibandingkan pengawet yang dioleskan diatas permukaan kulit kita. Seperti yang sudah dinyatakan, usus kita akan menyerap zat apapun dari makanan yang kita cerna termasuk pengawet.

Berusaha menghindari preservatif dalam kosmetik, namun tetap mengkonsumsi banyak *Natrium benzoat selama bertahun-tahun, aku rasa itu ironi yang lucu... :D

*(salah satu pengawet makanan)


Sources

Food & Drug Administration (US)
http://www.fda.gov/cosmetics/productandingredientsafety/selectedcosmeticingredients/ucm128042.htm

Center for Desease Control (US)
http://www.cdc.gov/exposurereport/Parabens_FactSheet.html

National Cancer Institute (US)
http://www.cancer.gov/cancertopics/factsheet/Risk/AP-Deo

American Cancer Society (US)
http://www.cancer.org/Cancer/CancerCauses/OtherCarcinogens/AtHome/antiperspirants-and-breast-cancer-risk

Paula's Choice (EU)
http://www.paulaschoice.nl/learn/en/basics/problems-with-preservatives

Paula's Choice (EU)
http://www.paulaschoice-eu.com/learn/en/component/content/article/ingredient-dictionary/ingredientsp-parabens

Paula's Choice (Int'l)
http://www.cosmeticscop.com/parabens-are-they-really-a-problem.aspx

Cosmetic, Toiletry, and Fragrance Association
http://www.ctfa.org/newsroom/20060901

Ahh... cukup segitu aja ya, Dear. Semoga bermanfaat dan bisa membuka perspektif baru mengenai si paraben ini :)


Wa Allahu Alam. Love, Momzhak

Ingredients | Brightening Skin Ingredients

Brightening Skin Ingredients - Untuk kebanyakan perempuan Asia, kulit putih bisa jadi nilai plus kecantikan yang sudah dimiliki. Aku ga bisa memungkiri fakta seperti ini, mengingat produk pemutih di Asia emang laku di pasaran.

Dan yang menyukai produk pemutih ga cuma mereka yang memiliki warna kulit yang lebih pigmented, untuk cewek yang tone kulit nya memang sudah cerah pun sering mencari skin care yang dapat membuat kulitnya lebih putih.^^

Di sini aku akan menjelaskan secara singkat beberapa zat aktif pemutih kulit dari produk skincare bebas yang biasa dijumpai di banyak supermarket atau drugstores. Biasanya memang relatif aman dan kebanyakan berasal dari ekstraksi bahan-bahan natural.


Ingredients | Brightening Skin Ingredients
-ilustrasi-

Ingredients | Apa itu Titanium Dioxide (TiO2)?

*(Tulisan ini ku ambil dari blog lamaku. Keterangan baca di sini ^^


Titanium Dioxide - White Pigment

Yang suka hunting atau gonta-ganti sunscreen/sunblock pasti kenal dong dengan TiO2? Tapi, itu kalau kalian perhatikan list ingredients di belakang kemasannya, sih, hehe.

TiO2 merupakan oksidasi dari unsur titanium. Secara fisik, TiO2 ini berbentuk serbuk berwarna putih. TiO2 memiliki beberapa bentuk, tapi ga akan dibahas di sini. Aku akan menjelaskan TiO2 secara praktikal saja.