Showing posts with label Vegan Cosmetics. Show all posts
Showing posts with label Vegan Cosmetics. Show all posts

Masalah Kulit Badan Yang Kering, Mandi Tanpa Sabun atau Pilih Sabun Natural??

qonitas - Salah satu jenis kosmetik yang paling ribet kucari adalah sabun mandi. Rasanya jauh lebih susah dibanding nyari suami idaman *maaf para Jones :p

Disaat kulit wajahku berminyak, di beberapa area kulit seperti kaki dan tangan malah cenderung kering. Dan keringnya gak cuma sekedar kering, tapi kering yang bikin gatal. Jadi, memilih sabun pun harus hati-hati, mengingat aku pun sedikit malas mengoleskan pelembab di badan.


Sampai Baba pernah bilang gini,"Yaudah, pakai batu kali aja kayak orang dulu. Tinggal digosok-gosok doang..."

Hehehehe...

Tapi sekilas memang pernah baca di sebuah forum online yg menyinggung masalah mandi tanpa sabun. Iya, mandinya cuma pakai air aja. Hmm, gimana rasanya tuh??

Masuk akal juga ya, karena pembersih badan itu memang cenderung bikin kulit kering (apalagi yang kulitnya emang kering kaya eke). Kenapa:
  • Kalau pakai sabun biasa (sabun yg dalam pembuatannya pakai lye/soda), biasanya pH nya alkali, bisa di atas 7, sedangkan kulit kita pHnya 4-5. Nha, pH yang alkali ini lah yg membuat kulit jadi kering, karena acid mantle pelindung kulitnya terkikis
  • Kalau pakai sabun yang pembusanya pakai detergen (biasanya ada kandungan sodium laury/laureth sulfate), bisa bikin kering juga karena bahan tadi sifatnya iritan. Tapi, kalau kalian kulitnya gak bermasalah dengan bahan di atas, ya gak apa-apa.

Setelah itu, aku baca-baca lagi mengenai ide tersebut. Ternyata banyak yang sukses dan ada juga yang gatot karena gak tahan sama bau badan atau kulit kasar dan kusam. Aku baca juga dari blog blogger luar yang bertahun-tahun mandi tanpa sabun dengan berbagai alasan, dari alasan kesehatan sampai lingkungan, dan mereka masih ngeksis aja tuh :p

Oke fix, aku harus coba no-soap!! Tapi kalau sampoan sih tetep (i cant imagine my oily scalp skipping out on shampoo! Mau jadi apa rambutku??).

Oiya, dan tanpa Batu Kali :D

Water-Only Washing

Water-only washing ini hanya saat mandi ya, karena kalau sehari-hari aku tetap sering mencuci tangan dengan sabun/cairan antiseptik mengingat aku breaktifitas di tempat rentan infeksi.

Mandi tanpa sabun bisa kubilang ide yang bagus, karena bisa menahan acid mantle pelindung pH alami kulit kita yang sering tersapu oleh alkali sabun ataupun bahan iritan macam sulfat.

Awalnya aku memang menikmati semua ini, sebelum aku ingat kalau aku memang punya bakat kulit berminyak, jadi gak semuanya kering. Jadinya, setelah sekian lama mandi tanpa sabun, pada beberapa area seboroik di badanku mulai berontak. Iya, akhirnya aku sukses berkomedo dan berjerawat di beberapa area tersebut terutama di punggung dan dada.

Sekedar info, area seboroik/seborrheic adalah area di tubuh kita yang memilik banyak kelenjar minyak (glandula sebesea). Area tersebut meliputi kulit kepala, wajah, dada, pungung dan sela paha. Kalau yang kulit wajahnya berminyak, biasanya area seboroiknya juga memproduksi minyak berlebih.

Kalau di luar area seboroik, kulit punya kelenjar minyak yang sedikit. Makanya gak pernah denger kan betis yang ditap-tap oil paper gara-gara banjir minyak? Atau tangan jerawatan? Kalau ada yang mikir bisul, itu beda lagi. Bisul mah folikulitis/furunkel, bukan acne, hehe.


Kembali ke mandi cuma pake air.

Kalau ada yang mikir sama seperti Baba, kok orang kita dulu kulitnya tetep bagus meski hanya mandi dengan batu gosok? Jawabannya: mungkin saja orang dulu yang kelenjar minyaknya sangat aktif juga jerawatan, bisa jadi malah lebih parah. Acne kan udah ada dari jaman nabi, bukan penyakit baru kaya flu babi.

Kalau ada yang mikir, kenapa orang-orang ada yang survive menjalani no soap washing tanpa keluhan? Jawabannya, tipe kulitnya apa dulu? Kalau tipenya normal, jarang mandi aja gak akan ada masalah, paling jadi kusam. Kalau tipenya kulit kering, malah bagus lho mandi gak pake sabun. Area kulitku yang kering malah jadi bagus kalau gak sabunan.

Gara-gara ini lah aku sampai mikir, yaudah, sabunin area yang gampang berminyak aja deh, yang lain enggak. Tapi dipikir-pikir gak lucu. Tanggung, malah tambah ribet, hehe.

Oiya, beberapa orang mengeluhkan bau badan saat mencoba teknik mandi seperti ini, namun aku sendiri tidak mengalami hal serupa, biasa aja. Seberkeringat apapun badanku jarang mengelurkan aroma menyengat, makanya jarang juga pakai deo atau semacam bedak-bedakan. Yang bikin sebel hanya jerawat itu saja.

Emang salahku juga sih karena cuma sekedar ngikut tips/tren, tapi gak menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Lagipula, kalau memang no soap ini bagus dan cocok untuk semua orang, arkeolog gak akan menemukan sabun purba yang usianya setua Piramida Giza.

Maka, berakhirlah ritual mandi tanpa sabun, dan jerawat badan pun jauh berkurang. 

SABUN HOMEMADE-NATURAL-ORGANIC-EVEN WITHOUT DANGEROUS CHEMICAL INGREDIENTS-BALABALA

Aku udah coba aneka macam sabun. Jelas, sabun mandi jebolan Unilever, Kao, dll sudah lama kutinggalkan. Sabun-sabun yang agak mahal yang dijual di drugstore, belum pernah ada yang kucoba karena rata-rata masih menggunakan surfaktan atau pembusa yang murmer semacam SLS/SLES.

Kalau ada yang pernah baca ceritaku tentang sabun mandi di blog lamaku, mungkin kalian ingat aku sejak lama pakai Pigeon baby wash, sabun cair tanpa sulfat yang gampang dibeli dimana-mana. Sejauh ini, itu yang paling cocok. Tapi, seiring berjalannya usia, pengen juga pakai sabun yang wanginya enak-enak, kemasannya lucu-lucu dan bukan sabun bayi.

Intinya, aku masih butuh pembersih saat mandi, tapi pembersih seperti apa? Idealnya ya bebas SLS/SLES, gak terlampau alkali, ada pelembab ekstra dan mudah dicari (tapi plis lah jangan Pigeon lagi).

Dan, aktifitas jajan berbagai merk sabun sempat dimulai lagi...

Pertama, aku pilih merek yang klaimnya natural, blabla (seperti subjudul diatas). Biasanya sabun dengan cap natural dan semacamnya memang hadir tanpa surfaktan yang bersifat iritan untuk kulit. 

Tapi, aku rasa sabun natural juga gak sepenuhnya bagus. Kenapa? Karena sabun natural itu sebenarnya sabun kovensional atau sabun biasa Sabun konvensional itu komposisi utamanya lemak dan cairan soda (lye), nah soda ini sifatnya alkali dan bisa bikin kulit kering. Jadi, kalau kita cocok-cocok aja sama sabun 'jaman sekarang' yg pembusanya pakai surfaktan/detergen, ya pakai aja.

Awalnya aku takut-takut pakai sabun homemade. Tapi lagi-lagi kekuatan review dan testimoni sukses bikin aku berani untuk coba-coba. Yah seenggaknya gak mengandung SLES/SLS yang bikin kering PLUS menyumbat pori-pori.

Merk sabun yang pertama kali aku gunakan adalah Green Mommy Shop (GMS). Jauh sebelum aku pakai sabunnya, aku memang suka beli minyak-minyakan semacam carier oil dan essential oil di GMS, soalnya relatif murah.

Klaim produk ini hampir 100% natural plus organik, walaupun aku sendiri sebenarnya belum terlalu menaruh hati dengan produk organik yang dibuat homemade di Indonesia. Bukannya gak percaya, Tapi di sini, kosmetik organik belum memiliki semacam badan pengawas resmi yg memberikan sertifikat organik. Kalau pun mau sertifikasi, ya harus dari luar misalnya macam USDA organic atau EcoCert. Jadi, alangkah baiknya bila ada badan/lembaga yang mengawasi proses produksi, agar konsumen lebih merasa tenang.

Balik ke GMS.

Sabun GMS yang aku pakai adalah Cacao Soap (motifnya lucu, deh) dan Vege Soap. Awal mula dipakai langsung terasa kesat. Beberapa kali mandi pakai sabun Cacao ini, kulit malah tambah kering, kemudian dicoba di muka kulit malah ngelupas. Yang Vege pun mirip dengan sabun biasa, gak terlalu ngeringin kayak cacao tapi kulit tetap busik setelahnya.

Aku memutuskan gak mau lagi nyoba sabun GMS lagi, lanjut beli minyak-minyaknya aja, hehe.Tapi, mungkin aku juga yang keliru milihnya, harusnya aku pilih Castile Soap yang ada olive oilnya. Atau bisa jadi karena ini sabun natural, yang kualitas setiap batch nya mungkin tidak selalu sama dengan batch sebelumnya.

Btw, membuat sabun natural itu memang gampang, tapi cukup tricky meski pas pembuatannya udah pakai 'soap calculator' (google it). Kalau gagal bikin, bisa-bisa kulit kita seperti mandi sabun cuci.

Dulu, aku pernah bikin sabun batangan sendiri. Tapi, karena kandungan fat/minyak yang aku tambahkan kurang dari yang seharusnya (karena takut gagal) maka ya sama saja... aku bak pakai sabun cuci piring. Keset! Tapi, kalau basa/soda yang kita tambahkan kurang, sabun cenderung lembek. Pernah bikin yg kedua kali, sukses juga akhirnya. Tapi mau bikin lagi males, hehe. 

Sempet skeptis kan sama sabun-sabun natural gitu. Tapi lagi-lagi gak kapokan. Akhirnya nyari-nyari lagi rekomendasi sabun natural yg bagus. 

Merek selanjutnya yg kupakai yaitu The Bath Box (TBB). Merk ini mengusung produk natural dan organic juga, tapi TBB punya kemasan yang lebih caem dari GMS (kesannya lebih meyakinkan, haha).

Pertama yang aku beli Milk Tea. Walau sabun batang, ini gak ngeringin, tapi pas awal bilas emang agak sedikit kesat. Setidaknya, pengalaman pakai TBB jauh lebih baik dari sabun batangannya GMS. Aku pakai ini sampai habis.

Sabun TBB Milk tea, selain preservatives free, dia mengandung susu kambing organik. (Btw, setahuku, hampir semua kambing itu organic ya gak sih? Kan makannya cuma dedaunan liar, gak dikasih suntik ini itu dan bukan hewan yang biasa dimodifikasi genetik/GMO? Beda sama sapi. Thats why, daging kurban jarang ada yang gemuk.)

Nah, susu kambing inilah yang membuat sabun ini lebih ramah untuk kulit meski dalam pembuatan sabun tetep pakai NaOH sebagai basa/soda. Kenapa? Konon, pH dari susu kambing itu relatif asam, mendekati pH alami kulit manusia, jadinya sabun tadi bisa dibilang pH nya balance.

Yah, someday, pengen nyoba sabun cairnya yang Goats Dont Lie, yang jadi best sellernya TBB itu. Mbeeekk... :3

FYI, sebenarnya produk cair yang gak pakai pengawet itu sungguh-sungguh riskan dengan kontaminasi. Nah, kalau pun ada produk cair yang non preservatif yang relatif lebih tahan lama, ya paling sabun cair atau shampo. Tapii... konsekuensinya sabun atau shampo tersebut harus punya kadar alkali yang relatif tinggi agar mikroorganisme ogah tumbuh, tapi kalau terlalu alkali ya kulit cepet kering. 

Makanya, buat produk-produk homemade yang tanpa pengawet macam ini, aku jarang beli yg ingredientsnya mencantumkan 'air'.

Kalau mau pilih produk homemade-natural/organic-no preservatives, aku sarankan beli yang anhydrous, yaitu yang gak ada kandungan airnya. Kenapa? Karena tanpa air = tidak ada kehidupan. Termasuk jasad renik.

Yg anhydrous tuh contohnya apa? Misalnya, aneka minyak,  lip balm, body balm, masker bubuk, scrub bubuk dan sabun batangan (karena kandungan airnya menguap. Ya, kecuali kalau udah kena air, cepat habiskan). Untuk body butter rata-rata anhydrous, kecuali merek Utama Spice (natural cosmetics yang aku suka dari dulu).

Kembali lagi ke sabun natural dkk.

Seneng deh nyoba-nyoba sabun gini, Tapi, yang bikin segan, aku harus beli secara online. Lebih suka lihat, beli dan langsung pakai. 

Akhirnya, aku coba-coba Original Source yg lebih mudah didapat. Yang natural memang hanya fragrancenya aja, dan dia masih pakai SLES sebagai pembusa. Akhirnya, nyoba yang botolan kecil dulu, takut gak cocok. Eh bener deh, kulit kering habis pakai Original Source dan terlalu lengket selepas dibilas, padahal merek ini merupakan produk animal cruelty free dan vegan friendly, ditambah wangi pepermint nya jos banget.

Sempet lihat merk Oleum yang non SLES/SLS plus dikasih aneka minyak-minyakan, tapi mengandung collagen. Semenjak addict sama halal cosmetics, jadinya agak hati-hati sama kandungan syubhat.

Masih agak takut coba sabun-sabun homemade merk lain. Tapi, aku mungkin bakal nyobain TBB yg Goats Dont Lie aja deh, apalagi itu sabun cair, kayaknya bakal cocok. Padahal, kita lagi kebanjiran homemade soapmaker lokal, lho. Misalnya Sensatia, Skin junkie, Bali Alus dll yang bikin laper mata mau coba-coba.

Okelah segitu saja.

Akhirnya, sekarang balik lagi ke Pigeon, kadang-kadang nerapin no-soap juga, terutama saat mandi pagi (kan kalau pagi-pagi badan masih bersih).

UPDATE: Akhirnya sekarang pakai Moayu Bath Gel (Halal certified + non SLS/SLES :) :) )

Review e.l.f Cosmetics Baked Blush (Peachy Cheeky)

e.l.f CosmeticsAssalamualaikum, Hari ini aku mau review salah satu produk kosmetik vegan yang super murah meriah. Tahu eye.lips.face Cosmetics kan? Brand yang lebih dikenal dengan nama e.l.f, merupakan brand kosmetik Amrik strata low end dengan kualitas yang lumayan.

Range harganya 1-6 USD per satuan, kalau yang berbentuk set, macem-macem harganya. Yang bikin aku suka, e.l.f merupakan salah satu kosmetik yang ramah hewan, dan seluruh produknya bebas unsur hewani.
e.l.f Cosmetics


Blusher ini merupakan salah satu wishlist-ku. Awal pertama coba, aku cukup kecewa, karena warnanya gak keluar, yang stand-out cuma shimmernya aja. Padahal dari review di beberapa blog, warna blush ini cukup pigmented. Saking sheer warnanya, akhirnya baked blush ini sempat kupakai sebagai highlight saja. Dan sempet gak mood juga untuk bikin tulisan tentang baked blush ini. 

Nah, kemarin aku coba colek dia lagi sebagai highlight, tapi tiba-tiba aku mikir, kok peach amat warnanya, biasanya gak begini (cuma shimmernya aja yg nongol). Ternyata, semakin blush ini dicolek/diusap/disweep (?), warnanya emang makin terlihat. Setelah aku coba di pipi, yey, akhirnya bisa juga dipakai blush-on! ^^

KEMASAN
Apa ada yang bilang kemasan blush ini bagus? Menurut aku jelek dan terkesan murahan (ya memang murah sih, hehe). Karena memang murah, yasudah berarti gak usah protes. Dimaklumi, ya.

SHADE
Aku pilih warna peachy cheeky, karena warnanya mirip sama blush-on kesukaanku. Bedanya, blusher yang aku suka itu minus shimmer, jadi glowing face nya emang gak dapet.  Kalau baked blush ini ada banget shimmernya.

Btw, salah satu keunikan baked blush ada pada 'marble pattern'-nya. Itu lho, pola guratan yang mirip urat-urat, hehe. Yang beruntung akan mendapatkan pola yang bagus dan kompleks. Sayangnya, pola yang aku punya kurang bagus menurutku.

Gambar di atas merupakan swatch dari baked blush ini. Page teratas saat dioles, page yg bawah setelah diblend. Di kulitku yang kuning langsat, blush ini berwarna peach dengan sedikit sentuhan warna pink, plus gold-shimmer yang sangat halus.

Karena shimmernya halus banget, baked blush ini gak membuat pori-pori besarku semakin terlihat. Jadi bisa dipakai siang hari, tapi tentunya dengan aplikasi yang tipis menggunakan flat top brush (Anw, untuk blusher, kalau aku lebih suka pakai flat top brush yg lebar dari pada kuas blush on khusus).

TEKSTUR
Tekstur blush ini keras tidak membubuk, jadi tidak akan ada debu blush berterbangan dalam aplikasinya. Untuk staying power, jujur aja aku gak pernah perhatian sama ketahanan blusher yang ku pakai. Kalau lagi pergi dan ada kesempatan ke restroom, ya otomatis aku touch-up. 

PIGMENTASI
Untuk pigmentasinya lumayan, seperti yang udah ku ceritakan tadi. Awalnya memang sama sekali gak pigmented. Sekarang, cukup 3 sweep warnanya udah bagus.

FEATURE & INGREDIENTS

Gambar di atas adalah beberapa fitur yang ditawarkan produk ini. Yah, sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan adanya Jojoba, Rose, Sunflower, dll. Tapi blush ini memang bisa menghasilkan kesan healthy glowy pada wajah. Dan karena shimmernya yg halus, jadinya gak keliatan bling-bling banget. Yah, pokoknya aku suka deh :D

SWATCH ON MY FACE

Nah, ini penampakan langsung di wajahku. Aku aplikasikan di kedua apple cheek dan nose bridge-ku dengan menggunakan top flat brush.  Aku suka banget hasil glowynya (plus suka harganya yang murah ^^).

Dan yang penting shimmernya gak terlalu membuat pori-pori besarku semakin jelas. Untuk mereka yang berpori-pori besar (apalagi lagi komedo, bruntus dll), produk makeup bershimmer akan memperjelas kekurangan tersebut. So, berhati-hati saja, ya.
http://cantiknyaqonita.blogspot.com/2013/09/elf-cosmetics-baked-blush-peachy-cheeky.html

Oiya, untuk Score, aku kasih 3.5/5

APAKAH PRODUK INI HALAL?
Kalau bersertifikasi halal, tentunya tidak. Tapi semua produk e.l.f Cosmetics adalah Vegan product yang pastinya tidak ada unsur hewan yang dilibatkan dalam produksinya. Jadi, elf Cosmetics bisa menjadi pilihan alternatif kosmetik yang sudah berlabel halal.
http://cantiknyaqonita.blogspot.com/2013/09/elf-cosmetics-baked-blush-peachy-cheeky.html
Wassalam, Love, Momzhak.

Cara mendapatkan bibir sehat (dan beberapa review singkat ^^)

Assalamualaikum :D
Sori banget sebelumnya, kalau merasa terganggu dengan my lips atau jadi ngerasa layar gadget kalian penampakannya jadi bibir semua. Haha. Ya, It's my bare lips. No editing at all (kecuali tulisan ini itu), it's really my healthy lips! Meski bentuk bibirku GAK BISA dibilang kayak bibir boneka yg imut-imut  itu, tapi cukup aku syukuri karena bibir ini sehat dan gak gampang kena masalah entah itu kering dll. Tapi kalau dibiarin, gak dirawat, dicuekin, semau gue, ya jadinya sakit juga, sih. So, kalau gitu bagaimana sih cara memperlakukan si kulit bibir? Ada caranya tersendiri, lho Mau tahu?  Kalau gitu, silakan lanjut dibaca, dibawah ini ada informasi menarik seputar perbibiran. ^^

Make Up | Mengenal Macam Bulu Kuas Make Up (Bulu Sintetik VS Bulu Hewan)

Assalamualaikum! ^^

Untuk kalian yang concern dengan kosmetik halal, ada hal lain yang harus diperhatikan kehalalannya selain  make-up dan skincare yang dioleskan di kulit, yaitu kuas make-up atau make-up BRUSHES!

Mengapa?

Karena sangat amat banyak brush yang dijual di luar sana masih menggunakan bulu binatang! Bulu binatang yang digunakan bisa berasal dari tupai, marmut, kambing, kuda, babi dll. Dan bulu binatang masih sangat disukai sebagai brush bristle karena harga yang relatif murah dan memberikan hasil make-up yang sempurna. Meskipun, bulu sintetik sekarang banyak yang berkualitas sangat baik.
 
Sebagai pengetahuan, ada 2 jenis bristle yang digunakan pada brush. Oiya, bristle adalah istilah 'bulu' untuk kuas

Mengenali Kosmetik Halal dan Alternatifnya (Updated)

Mengenali Kosmetik Halal - Assalamualaikum Qonitas, Berhias sepertinya sudah menjadi dorongan naluriah setiap wanita. Berbagai macam kosmetik digunakan setiap hari, berminggu-minggu, bertahun-tahun. Nah, sedemikian dekatnya wanita (dalam hal ini Muslimah) terhadap kosmetik, diutamakan untuk menggunakan yang sudah jelas kehalalannya.

Kosmetik yang memiliki kehalalan yang jelas, tentu memiliki sertifikat resmi dari lembaga Fatwa. Di Indonesia, lembaga yang berhak memberikan sertifikat dan label halal pada produk kosmetik adalah LPPOM MUI.

Untuk mengetahui adanya jaminan halal resmi di suatu kosmetik, bisa kita lihat logo halal MUI  melalui kemasan di tiap produknya. Seperti nilah logo halal yang dimaksud:


KOSEMETIK HALAL MENURUT FATWA MUI (Dalam sidang komisi fatwa 13 Juli 2013)

Ketentuan Hukum

1.Penggunaan kosmetika untuk kepentingan berhias hukumnya boleh dengan syarat:

a. bahan yang digunakan adalah halal dan suci;
b. ditujukan untuk kepentingan yang dibolehkan secara syar'i; dan
c. tidak membahayakan.

2. Penggunaan kosmetika dalam (untuk dikonsumsi/masuk ke dalam tubuh) yang menggunakan bahan yang najis atau haram hukumnya haram.

3. Penggunaan kosmetika luar (tidak masuk ke dalam tubuh) yang menggunakan bahan yang najis atau haram selain babi dibolehkan dengan syarat dilakukan penyucian setelah pemakaian (tathhir syar’i).

4.Penggunaan kosmetika yang semata-mata berfungsi tahsiniyyat, tidak ada rukhshah (keringanan) untuk memanfaatkan kosmetika yang haram.

5. Penggunaan kosmetika yang berfungsi sebagai obat memiliki ketentuan hukum sebagai obat, yang mengacu pada fatwa terkait penggunaan obat-obatan.

6. Produk kosmetika yang mengandung bahan yang dibuat dengan menggunakan mikroba hasil rekayasa genetika yang melibatkan gen babi atau gen manusia hukumnya haram.

7. Produk kosmetika yang menggunakan bahan (bahan baku, bahan aktif, dan/atau bahan tambahan) dari turunan hewan halal (berupa lemak atau lainnya) yang tidak diketahui cara penyembelihannya hukumnya makruh tahrim, sehingga harus dihindari.

8. Produk kosmetika yang menggunakan bahan dari produk mikrobial yang tidak diketahui media pertumbuhan mikrobanya apakah dari babi, harus dihindari sampai ada kejelasan tentang kehalalan dan kesucian bahannya.

Rekomendasi

1. Masyarakat dihimbau untuk memilih kosmetika yang suci dan halal serta menghindari penggunaan produk kosmetika yang haram dan najis, makruh tahrim dan yang menggunakan bahan yang tidak jelas kehalalan serta kesuciannya.

2. Pemerintah mengatur dan menjamin ketersediaan kosmetika halal dan suci dengan menjadikan fatwa ini sebagai pedoman.

3. Pelaku usaha diminta untuk memastikan kesucian dan kehalalal kosmetika yang diperjualbelikan kepada umat Islam.

4. LPPOM MUI tidak melakukan sertifikasi halal terhadap produk kosmetika yang menggunakan bahan haram dan najis, baik untuk kosmetika dalam maupun luar.

5. LPPOM MUI tidak melakukan sertifikasi halal terhadap produk kosmetika yang menggunakan bahan yang tidak jelas kehalalan dan kesuciannya, sampai ada kejelasan tentang kehalalan dan kesucian bahannya.

UNSUR YANG NAJIS & BAHAN MERAGUKAN DALAM KOSMETIK
Menurut Fatwa MUI di atas, berhias hukumnya boleh, namun harus dengan kosmetik yang berasal dari bahan yang halal. Adapun unsur yang tidak boleh ada di dalam kosmetik, seperti:
  • Unsur Babi dan Anjing
  • Unsur hewan buas
  • Unsur tubuh manusia
  • Darah 
  • Bangkai
  • Hewan halal (misal: sapi) yang tidak syar'i cara penyembelihannya.
  • Khamar 
Dan, dalam jagad industri kosmetik, banyak bahan-bahan syubhat yang harus diwaspadai titik kritis keharamannya., yaitu
  1. Plasenta
  2. Gliserin
  3. Kolagen
  4. Lactic Acid
  5. Plasenta
  6. hormon
  7. vitamin
  8. aneka pewarna, pewangi, dll
    (sumber: http://pusathalal.com/artikel-referensi/artikel-seputar-halal/item/404-cantik-dan-sehat-dengan-kosmetika-halal)
Mengapa bahan-bahan di atas masuk kategori meragukan? Karena bahan-bahan tersebut bisa bersumber dari bahan yang halal atau yang haram. Halal dan haramnya pun bisa ditentukan dari cara produksinya, dan media perantara pembuatan bahan-bahan tersebut.

Nah, kemudian, bagaimana dengan alkohol/ethanol?

Menurut fatwa dari MUI, alkohol boleh ada di dalam kosmetik, selama alkohol tersebut tidak berasal dari industri minuman keras (khamar). Ditambah, alkohol tersebut tidak membahayakan kesehatan penggunanya, sehingga MUI membatasi persentase penggunaan alkohol/ethanol dalam kosmetik.

ALTERNATIF KOSMETIK HALAL
Seperti yang sudah dijelaskan, kosmetik yang insya Allah 100% halal adalah yang sudah mendapatkan sertifikat dan label halal dari MUI. Jadi, tetap prioritaskan kosmetik yang memang sudah punya label halal, ya!

Nah, adakalanya kita pun ingin membeli atau mencoba produk-produk yang ada di pasaran, namun ragu dengan kandungannnya. Atau kita ada di tempat dimana tidak ada lembaga yang memantau kehalalan produk yang dijual.

Ada beberapa cara tips, mencari ALTERNATIF kosmetik yang sudah mendapatkan sertifikasi halal, antara lain:
1. Pertama, pilihlah kosmetik dengan label 'Animal Cruelty Free' (ACF) cosmetics.
ACF cosmetics adalah kosmetik yang tidak melakukan kekerasan terhadap binatang yang meliputi, uji coba keamanan kosmetik, bahan dan proses pembuatannya. Intinya, kosmetik yang bebas eksploitasi terhadap hewan apapun maksud dan tujuannya. Namun, menurut pengamatanku, kosmetik yang 'free cruel', biasanya terbagi menjadi 3:


1. Vegan Cosmetics
Vegan Cosmetics adalah kosmetik yang zero percent animal constituent, baik dalam bahan maupun proses pembuatannya. Cocok untuk mereka yang memiliki gaya hidup veganisme. Kosmetik jenis ini tentu 100% bebas kekerasan terhadap binatang dan tidak menggunakan unsur hewani dalam komposisi produknya. Menurut bahan yang digunakan, insya Allah bebas perbabian dan unsur hewani haram lainnya. Biasanya, kosmetik vegan, memiliki label seperti ini:
Ada beberapa merek yang memiliki kosmetik vegan dalam varian produknya, seperti:  LUSH, The Balm, ELF cosmetics (100% vegan), Sleek, Urban Decay, NYX, Wet n Wild, dll. Untuk lebih jelas, produk apa saja yang berlabel vegan, bisa dilihat searching via google atau kunjungi web masing-masing.
2. Vegetarian Cosmetics
Ini tidak jauh beda dengan vegan cosmetics, namun memiliki kandungan yang masih berhubungan dengan hewan, yang tentunya tidak diperbolehkan dalam vegan sejati, namun masih bisa dipergunakan oleh mereka sang Vegetarian yang secara aturan memang lebih longgar, antara lain: susu, madu, beeswax, lanolin (dari wool domba), pewarna serangga carmine, bulu-bulu binatang yang diambil tanpa membunuh/menyakiti. Namun insya Allah, bebas unsur hewani yang diambil dengan cara/membunuh/menyakiti/dipergunakan tubuh dan dagingnya/

Contoh kosmetik vegetarian adalah: The Body Shop, LUSH, Urban Decay, Paula's Choice.
3. 'Others'
Kalau ini cruelty free nya hanya sebatas bebas uji coba binatang, tapi tidak jelas apakah dalam produknya menggunakan unsur hewani atau tidak. Untuk yang meragukan seperti ini lebih baik dijauhi, meskipun ada label 'cruelty free' sekalipun. Contohnya: Bath and Body Works, Malibu, Too Faced, EOS,

Untuk lebih jelas mengenai cosmetic yg 'Animal Cruelty Free'  versi PETA, bisa kunjungi:
    http://www.peta.org/living/beauty-and-personal-care/companies/default.aspx  

2. Tips kedua, pilih kosmetik yang memiliki logo 'Leaping Bunny'.
Leaping Bunny juga memberikan sertifikasi 'cruelty free' kepada produk-produk yang bebas kekerasan terhadap binatang. Konon, regulasinya lebih ketat dibandingkan aturan 'cruelty free' versi PETA. Berbeda dengan PETA, kosmetik yang memiliki logo Leaping Bunny terbatas pada kosmetik yang vegan dan vegetarian. Untuk 'cruelty free' yang meragukan, saya rasa tidak ada. 


Beberapa contoh kosmetik yang terdaftar di Leaping Bunny:  Everyday Mineral, Paula's Choice, The Body Shop, Urban Decay, Burt's Bees, dll. 

Untuk informasi lebih jelas, bisa kunjungi leapingbunny.org

3. Tips ketiga, bila tidak terdaftar dalam cruelfty free cosmetics versi PETA maupun LEAPING BUNNY, biasakan untuk memastikan di web produk bersangkutan, apakah mereka memiliki klaim bahwa produknya bebas hewan atau tidak.
Beberapa contoh produk: Hada Labo (animal free & alcohol free juga), L'occitane (vegetarian), Sebamed (sebagian vegetarian), Oriflame (sebagian vegan)


4. Tips terakhir, bila sudah berniat membeli kosmetik vegan atau vegetarian, perhatikan ingredient kosmetik, apakah terdapat alkohol di dalamnya.
Seperti yang telah dijelaskan di atas tadi, alkohol boleh digunakan asalkan bukan berasal dari industri khamr (beverage industry), dan tidak merugikan penggunanya. Ada beberapa tips:

  • Kalau tertulils 'alcohol denat', alcohol SD, denaturated alcohol, ini halal digunakan. Karena alkohol jenis itu, bukan alkohol yang bisa dikonsumsi untuk tujuan mabuk-mabukan. Dan memang digunakan khusus pemakaian luar.
  • Lihat persentase alkohol. Kalau terlalu tinggi, hindari karena bisa menimbulkan iritasi pada sebagian orang. Kalau tidak tertulis persentasenya, lihat urutannya dalam ingredient list, semakin ada di posisi awal, berarti semakin tinggi jumlahnya diantara komposisi lainnya. Gunakan alcohol yang berkadar rendah
  • Untuk alkohol lain, seperti butyl alcohol, cetyl alcohol, dll (kecuali ethyl-alcohol). Itu bukan alkohol sejati, dan halal digunakan. Yang harus diwaspadai adalah alkohol yang hanya tertulis kata 'alcohol'/ethanol/ethyl alcohol.
  • Hindari produk kosmetik yang mengandung/tertuliskan wine, beer, dan unsur minuman keras lainnya. 
  • Amannya, gunakan produk NON ALCOHOL/ALCOHOL FREE bila tidak yakin.
 *****
Sekian dulu, postingan singkatku mengenai ciri kosmetik halal. Kalau ada yg mau menambahkan, silahkan di kolom komentar. PERHATIAN: DILARANG MENGKOPI ISI TULISAN TANPA IZIN!
Wa Allahu Alam Love, Momzhak